August, 2017

now browsing by month

 

Beberapa Larangan Bagi Orang yang Ingin Berkurban

Patuhi Larangan Berkuban Akan Menjadi Sah Kurbannya

Larangan Berkurban—Pada bulan-bulan Hijriyah, pada saat ini masih berada di waktu Bulan Dzulqo’dah. Dimana pada bulan ini juga sudah masuk ke dalam bulan Haji untuk orang-orang yang menunaikan ibadah Haji di Tanah Suci. Khusus orang-orang di Indonesia juga sudah berangkat dari awal-awal Bulan Dzulqo’dah atau Bulan Agustus ini setelah melakukan beberapa persiapan berangkat Haji terutama manasik Haji atau berlatih seolah-olah sudah menjalani ibadah Haji di Tanah Suci dengan melaksanakan rangkaian ibadah Haji secara lengkap beserta dengan do’a-do’anya mulai dari niat ihram hingga tahallul. Suatu yang sangat membahagiakan tentunya karena dapat menunaikan ibadah Haji yang termasuk ke dalam rukun Islam yang kelima tersebut. Siapa yang tidak menginginkan pergi ke Tanah Suci dengan melakukan serangkaian kegiatan ibadah Haji? Tentunya semua orang dipastikan sangat menginginkan hal tersebut bukan? Nah, bila ada kesempatan dalam menunaikan ibadah Haji tersebutlah jangan sampai disia-siakan oleh kita sebagai umat Muslim dan Muslimah. Jadi harus total dalam menunaikan ibadah Hajinya agar menjadi Haji yang mabruroh.

Setelah adanya Bulan Dzulqo’dah, terdapat Bulan Dzulhijah. Dimana pada tanggal 1 Dzulhijah tersebutlah orang-orang yang menunaikan ibadah Haji akan menyembelih hewan qurban. Sama halnya seperti orang yang tidak menunaikan ibadah haji. Boleh berkurban dan boleh juga tidak. Berkurban bagi orang yang belum mampu, tidak terlalu dipaksakan. Pada saat berkurban, ada Larangan Berkurban yang harus dipatuhi agar ibadah kurbannya lengkap syaratnya dan menjadi sah ibadah kurbannya. Apakah Larangan Berkurban yang diterapkan bagi orang yang ingin menunaikan ibadah kurban? Berikut ulasan sebuah hadits yang menerangkan Larangan Berkurban.

Hadits yang Menerangkan Larangan Berkurban

Hadits tentang Larangan Berkurban ini mungkin hanya diketahui bagi orang yang baru ingin berkurban saja, namun sebagai orang Islam agar bertambah ilmunya haruslah belajar lebih banyak mengenai peraturan yang berkaitan dengan Agama Islam seperti mengetahui Larangan Berkurban ini, meski belum dapat berkuban di tahun ini atau belum memiliki niat. Semoga bila sudah ada niat, dapat mewujudkan segera niat kurbannya. Aamiin Ya.. Robba’alamiin.. Adanya Larangan Berkurban, banyak haditsnya, diantaranya yakni yang artinya : Dari Ummu Salamah, Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam bersabda : “Barangsiapa yang telah memiliki hewan yang hendak dikurbankan, apabila telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, maka janganlah dia memotong sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya hingga dia selesai menyembelih.” (Hadits Riwayat Muslim 5236, Abu Daud 2793, dan yang lainnya)”.

Adapun hadits lain yang menerangkan tentang Larangan Berkurban yakni yang artinya : Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam bersabda : “Jika kalian melihat hilal Dzulhijah (Maksudnya : Telah memasuki 1 Dzulhijah) dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya” (Hadits Riwayat Muslim No. 1977). Maksud dari Larangan Berkurban diatas adalah berlaku hanya bagi yang berkurban, tidak berlaku bagi anggota keluarga, maka mulai dari 1 Dzulhijah hingga hewan kurban disembelih tidak boleh memotong rambut kepala, jenggot, kumis, bulu ketiak, bulu kemaluan dan bulu lainnya di tubuh. Begitu pula untuk kuku tangan dan kuku kaki.

Ikuti ibadah umroh di Tanah Suci dengan biaya murah dan fasilitas mewah hanya di program Umroh Desember tahun ini!

Bagaimana Larangan Berkurban Bila Mewakilkan Kurban?

Adapun kurban yang di atas namakan orang lain, maka orang tersebut tidak perlu mengamalkan hadits Larangan Berkurban di atas; karena tidak ada riwayat yang menjelaskan hal tersebut. Orang yang berkurban tidak dinamakan muhrim, karena definisi muhrim adalah orang yang sedang berihram haji atau umrah atau haji dan umrah secara bersamaan”. (Fatawa Lajnah Daimah: 11/397-398)

Mendalami Pemahaman Adab-Adab Dalam Bertamu

Bersilaturahmi yang Baik, Bertamu Ke Rumah Saja

Adab-Adab Bertamu—Manusia dalam dunia ini tidaklah tinggal sendirian. Manusia yang ditakdirkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadi makhluk sosial, membutuhkan teman hidup. Entah teman hidup yang berstatus sebagai keluarga, teman, sahabat atau para tetangga yang paling dekat dengan rumah kita. Untuk itu hal yang paling baik dalam menjalin pertemanan, maka harus ada rasa persaudaraan didalam hati. Tidak bermusuhan atau tidak saling membuat pertengkaran yang mengacaukan sebuah hubungan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara sering bermain atau sering bersilaturahmi. Namun silaturahmi yang baik harus memiliki batasan-batasan tertentu. Misalnya tidak berkhalwat atau tidak membumbui perlakuan yang baik dengan pembicaraan yang tidak baik, contohnya saja seperti membicarakan keburukan orang lain atau aib orang lain. Padahal niat baiknya adalah silaturahmi. Sebaiknya juga apabila ingin bermain sekaligus bersilaturahmi, lebih baik bertamu ke rumah orang yang kita niatkan. Karena dengan begitu dapat menjalin persaudaraan dan kekeluargaan dengan mudahnya. Sebelum melakukan hal yang akan mewujudkan niat baik yang ada didalam hati tersebut, maka harus mengetahui terlebih dahulu Adab-Adab Bertamu. Karena sebagai tamu tidak bisa melakukan sesuatu seenaknya seperti dirumah sendiri.

Adab-Adab Ketika Ingin Bertamu Ke Rumah

  1. Perhatikan Waktu Berkunjung

Adab-Adab Bertamu yang pertama ini, memang penting dan harus diperhatikan. Yaitu waktu kunjungan ke rumah yang telah diniatkan. Jika memungkinkan kunjungannya dilakukan dipagi hari atau sore hari dan tidak dalam waktu yang sedang sibuk. Waktu tersebut adalah waktu yang paling tepat daripada melakukan kunjungan di waktu malam (waktu beristirahat). Karena sebagaiamana yang telah dikatakan oleh sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah tidak pernah mengetuk pintu pada keluarganya pada waktu malam. Beliau biasanya datang kepada mereka pada waktu pagi atau sore.” (HR. al-Bukhari no. 1706 dan Muslim no. 1928).

  1. Meminta Ijin Ketika Bertamu

Sebelum bertamu, jangan sampai orang yang memiliki rumah tidak tahu kita ingin ke rumahnya. Karena telah diketahui bahwa ada juga adab menerima tamu agar mempersiapkan segala apa yang ada dirumah (seperti makanan dan minuman) kemudian diberikan kepada tamu. Jangan lupa juga memberikan salam ketika bertamu, karena dalam ucapan salam tersebut akan tersirat banyak do’a didalamnya. Adab-Adab Bertamu ini juga ada perintahnya dari Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al Qur’an Surat An-Nur ayat 27.

  1. Menyebutkan Keperluan Untuk Bertamu

Seseorang yang ingin bertamu, maka harus menyebutkan apa keperluannya. Jika bertamu untuk niat yang tidak baik, maka akan berdampak tidak baik juga nantinya. Contoh dari Adab-Adab Bertamu yang ketiga ini ada di Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 32.

  1. Tidak Memberatkan dan Segera Kembali Setelah Urusan Selesai

Untuk Adab-Adab Bertamu yang keempat, harus dipahami oleh orang yang bertamu. Tak mungkin seorang pemilik rumah memberitahukan soal keadaan sebenarnya kepada orang yang bertamu. Maka, jika memungkinkan tidak meminta apapun yang dapat memberatkan si pemilik rumah, lalu bergegas pergi dari rumah pemilik apabila telah menyelesaikan urusannya dan memakan sedikit yang telah disuguhkan. Ketetapan ini telah ada di Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surat Al-Ahzab ayat 53. Marilah bersama-sama bertamu ke rumah Allah Subhanahu Wa Ta’ala di Tanah Suci pada Bulan November mendatang lewat Umroh November yang murah dan terpercaya!

  1. Berdo’a Untuk Tuan Rumah

Orang yang baik pasti akan memberikan do’a disetiap perlakuan baik yang telah dilakukan oleh orang yang ada disekitarnya. Termasuk orang yang bertamu sebaiknya mendo’akan atas jamuan yang diberikan oleh pemilik rumah. Adab-Adab Bertamu yang kelima ini ada dalam sebuah hadits dari Abdullah Bin Busr Radiyallahu’anhu yang menerangkan do’a ajaran Nabi Shalallahu’alaihi Wasalam yakni yang artinya “Ya Allah berikanlah barakah untuk mereka pada apa yang telah Engkau berikan rizki kepada mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka.” (HR. Muslim no. 2042).

Silaturahmi adalah ajaran Islam yang memang menjadi budaya di Indonesia dengan budaya persaudaraan nya yang kuat, hingga kita akan menemukan di hampir setiap daerah yang begitu antusias dengan apa yang sedang menjadi hajat saudara, tetangga, teman atau kerabat.

Seperti budaya mengunjungi kerabat yang akan melaksanakan Umroh Atau Haji pun begitu ketika pulang nya mereka dari tanah suci.